Pangkalpinang – elanghitamindonesia.co.id-Suasana mencekam menyelimuti halaman PT Timah Tbk, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Senin (6/10/2025). Aksi demonstrasi damai berubah menjadi neraka gas air mata setelah aparat keamanan menembakkan peluru gas ke arah massa tanpa pandang bulu.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

 

Jeritan dan tangisan menggema di tengah kepulan asap putih. Sejumlah ibu-ibu pingsan, remaja mengalami sesak napas dan diduga lumpuh sementara, sementara banyak demonstran terkapar dengan luka di kepala.

Mataku perih! Kami mati kalau seperti ini!” teriak salah satu demonstran dengan suara serak, menggambarkan teror yang mereka alam

Asap gas air mata tak hanya menyelimuti area perusahaan tambang milik negara itu, tapi juga merembet ke kawasan warga dan lapak pedagang kecil di sekitar lokasi. Anak-anak menangis, pedagang berlarian, suasana berubah kacau tak ubahnya ** medan perang di jantung kota Pangkalpinang.

Dari pantauan elanghitamindonesia.co.id, seorang remaja tampak ditandu menggunakan stretcher oleh sesama demonstran dan petugas medis darurat setelah terpapar gas secara langsung. Kepanikan merebak, massa berhamburan mencari udara segar, namun tembakan gas terus berdentum dari arah aparat.

 

Sumber di lapangan menyebut, kericuhan pecah lantaran massa yang berkali-kali ditembaki gas air mata tanpa peringatan, sehingga emosi meledak dan aksi protes berubah menjadi perusakan terhadap fasilitas gedung PT Timah Tbk.

 

Ironisnya, hingga berita ini ditayangkan, manajemen PT Timah Tbk dan pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait jumlah korban luka, dampak kesehatan warga, maupun alasan penembakan gas air mata secara brutal tersebut.

 

Aksi yang sejatinya digelar untuk menyuarakan ketidakadilan dan dugaan penyimpangan di tubuh PT Timah, kini justru menjadi simbol luka baru bagi rakyat di negeri penghasil timah ini.

 

Di balik tembok kokoh korporasi tambang negara, jeritan rakyat menggema — memohon keadilan di antara kepulan gas air mata dan kebisuan kekuasaan.

TAMA