BATAM, elanghitamindonesia.co.id — Penggerebekan balpres di Sagulung pada Sabtu (9/11/2025) bukan lagi sekadar operasi penertiban. Pengungkapan itu seperti membuka kotak hitam yang selama ini disembunyikan rapat-rapat di Kota Batam—kotak berisi aroma busuk permainan kekuasaan, penyalahgunaan jabatan, dan jaringan bisnis gelap yang seolah tak tersentuh. Rabu (12/11/2025).
Di tengah kepanikan buruh yang berlarian, satu kalimat meluncur seperti peluru:
“Ini punya ketua IS.”
Pelan, tapi menghantam keras.
Satu kalimat itu saja sudah cukup untuk mengguncang logika siapa pun yang menyaksikannya. Sebab nama itu bukan nama kecil, bukan nama orang pinggiran, bukan nama yang bisa dipanggil sembarangan.
Itu adalah nama seorang ketua partai, anggota dewan, dan figur politik yang seharusnya menjaga marwah jabatan—bukan justru disebut-sebut di tengah aktivitas bongkar muat barang ilegal.
Dan yang lebih mengejutkan:
Para pekerja mengucapkannya dengan nada biasa, seolah bukan rahasia lagi.
Seolah semua orang di lapangan sudah tahu siapa yang “di atas”.
Jaringan yang Terlihat Kebal, Seperti Ada Tangan Besar yang Menutup Segalanya
Balpres di Batam bukan operasi kecil. Ini bisnis miliaran.
Dan selama bertahun-tahun, jaringan ini berjalan dengan pola yang hampir mustahil terjadi tanpa proteksi:
kontainer masuk terlalu mulus,
pemeriksaan pelabuhan seperti formalitas,
jadwal bongkar muat seperti sudah “diatur” dari jauh,
dan setiap penindakan hanya menyentuh lapisan terendah.
Seolah ada tembok besar yang menghalangi aparat menyentuh aktor di balik layar.
Tembok yang hanya bisa dibangun oleh jabatan, akses, dan pengaruh.
“Sumber-sumber di bawah tanah” bicara lebih keras daripada lembaga resmi
Sejumlah narasumber memberi informasi yang sama:
Ada bayangan kekuasaan yang melindungi bisnis ini.
Bukan satu sumber, bukan dua.
Berulang.
Konsisten.
Mengarah ke sosok yang sama.
Namun tanpa dokumen hukum, media hanya bisa menyebutnya sebagai dugaan, isu lapangan, informasi yang beredar, bukan fakta hukum.
Tetapi ketika satu nama berulang kali muncul dari bibir orang-orang yang berbeda, pertanyaan menjadi tak terhindarkan:
Mengapa semua jari mengarah ke inisial yang sama?
Politisi yang Disebut: Diam. Membisu. Seolah Tak Tersentuh.
Nama IS menggema di lapangan.
Tetapi IS sendiri?
Tidak ada suara. Tidak ada bantahan. Tidak ada klarifikasi.
Hanya diam.
Dan diam seperti itu bukan diam biasa.
Itu diam yang justru membuat publik bertanya:
Apakah ia memang tidak tahu?
Atau sengaja membiarkan situasi kabur?
Atau merasa bahwa ia terlalu kuat untuk tersentuh oleh isu lapangan?
Di tengah diamnya politisi, penegak hukum juga terlihat berjalan lambat.
Tidak ada pengumuman tersangka baru.
Tidak ada penelusuran ke pihak-pihak berpengaruh.
Tidak ada pernyataan tegas.
Seolah semua orang sedang menunggu:
Berani atau tidak menyentuh “langit” jaringan ini?
Yang tertangkap hanya pekerja.
Yang disebut justru petinggi.
Yang bergerak lambat adalah aparat.
Dan publik melihat semuanya.
Batam bertanya: apakah kota ini masih punya nyali melawan kekuasaan?
Jika jaringan ini memang ditopang oleh sosok berpengaruh, maka ini bukan lagi persoalan balpres.
Ini persoalan moral, integritas jabatan, dan penghinaan terhadap amanah publik.
Karena sekali seorang politisi memakai jabatan untuk melindungi bisnis ilegal, maka ia bukan lagi wakil rakyat.
Ia berubah menjadi wakil kepentingan gelap.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya, publik mendengar sebuah nama disebut di lokasi bongkar muat.
Satu nama.
Satu inisial.
Satu bayangan besar yang selama ini tak tersentuh.
Permainan sudah berubah.
Sorotan publik sudah mengarah.
Dan kini tinggal menunggu:
apakah aparat berani menabrak dinding yang selama ini tak pernah retak?








