BANGKA, elanghitamindonesia.co.id – Bara konflik antara masyarakat dan perusahaan kembali menyala di Pulau Bangka. Kali ini, kemarahan warga yang tergabung dalam Aliansi Lapan Desa mencapai titik didih setelah sejumlah kamp atau tempat tinggal sementara milik masyarakat dilaporkan hangus terbakar. Peristiwa tersebut diduga terjadi usai warga memenuhi permintaan perusahaan untuk mengosongkan area kerja mereka.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Merasa diperlakukan tidak adil dan dikhianati, Aliansi Lapan Desa menyatakan siap menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di kawasan Divisi 5 PT Gunung Muda Lestari (GML) pada Kamis (18/06/2026). Aksi tersebut disebut sebagai bentuk protes atas dugaan pembakaran aset milik masyarakat yang selama ini digunakan sebagai sarana penunjang aktivitas mencari nafkah.

Menurut informasi yang dihimpun, sebelumnya perwakilan PT GML bersama CV TMR meminta masyarakat untuk sementara menghentikan aktivitas dan mengosongkan lokasi. Permintaan itu disampaikan karena adanya agenda kunjungan direksi perusahaan serta sejumlah petinggi terkait.

Demi menjaga situasi tetap kondusif, masyarakat mengaku memilih bersikap kooperatif. Alat-alat kerja ditarik dari lokasi dan aktivitas dihentikan sementara. Namun, langkah yang mereka anggap sebagai bentuk penghormatan terhadap permintaan perusahaan justru berujung pada kekecewaan mendalam.

Tak lama setelah kunjungan tersebut berlangsung, warga dikejutkan dengan kabar sejumlah kamp milik masyarakat telah terbakar. Kepulan asap yang terlihat dari lokasi membuat warga berbondong-bondong mendatangi area tersebut dan mendapati bangunan sederhana yang biasa digunakan untuk beristirahat telah berubah menjadi puing dan arang.

Sejumlah warga menduga pembakaran itu dilakukan oleh oknum yang berkaitan dengan pihak keamanan perusahaan. Dugaan tersebut kini menjadi pemicu utama meningkatnya ketegangan di lapangan.

“Kami sudah mengikuti permintaan mereka. Alat-alat kami kosongkan, aktivitas kami hentikan sementara. Tapi ketika kami kembali, kamp masyarakat justru sudah terbakar. Kalau benar ini dilakukan oleh oknum perusahaan, tentu kami sangat kecewa dan merasa diperlakukan tidak adil,” ujar salah satu perwakilan Aliansi Lapan Desa, Rabu (17/06/2026).

Bagi masyarakat, kamp yang terbakar bukan sekadar bangunan sederhana. Tempat tersebut menjadi lokasi beristirahat sekaligus penunjang aktivitas ekonomi mereka sehari-hari. Kehilangan fasilitas itu dinilai sebagai pukulan berat bagi warga yang menggantungkan hidup dari aktivitas di kawasan tersebut.

Peristiwa ini pun memicu konsolidasi cepat di kalangan masyarakat. Tokoh-tokoh desa dan perwakilan kelompok warga langsung melakukan koordinasi untuk menyatukan sikap menghadapi situasi yang mereka anggap semakin merugikan masyarakat kecil.

Aliansi Lapan Desa menegaskan bahwa aksi yang akan digelar bukan hanya untuk menuntut klarifikasi atas dugaan pembakaran kamp warga, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan terhadap berbagai persoalan yang selama ini mereka rasakan dalam hubungan dengan pihak perusahaan.

Mereka juga mengajak insan pers, lembaga sosial, serta berbagai elemen masyarakat untuk ikut mengawal jalannya aksi dan memastikan seluruh proses berlangsung secara terbuka.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Gunung Muda Lestari (GML) maupun pihak terkait lainnya belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pembakaran kamp milik masyarakat tersebut.

 

Penulis: Tama